Kamis, 07 Juli 2016

Kontribusi Etnis Tionghoa Pada Seni Pertunjukan

Kontribusi Etnis Tionghoa
Pada Seni Pertunjukan

Oleh Ch. Dwi Anugrah

Seperti diketahui warga Tionghoa mungkin paling merasakan  kejamnya sebuah stereotip yang selalu melekat dalam dirinya baik secara personal maupun kolektif. Stigma  umum kepada mereka yang selalu hanya mengedepankan laba, bisnis ekonomi, dan berbagai  nilai konsumtif lainnya  kadang orang  tak melihat  kemungkinan  unsur budaya lainnya  di dalam diri mereka.
Memang bila ditelisik lebih jauh, sejarah mencatat  bahwa  keharmonisan hubungan etnis keturunan  Tionghoa dengan etnis-etnis lain di Indonesia mengalami pasang surut yang disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi.  Di antaranya sejak zaman VOC  pada abad ke-17 sampai pada tahun 1945 penjajah membuat diskriminasi dengan pembagian kelas dalam masyarakat yang merendahkan  orang pribumi. Konflik SARA antara etnis Tionghoa dengan pribumi dan adanya kesenjangan ekonomi yang memicu kecemburuan sosial. Berdasarkan catatan John Naisbitt dalam Megatrend Asia (1997) meskipun komunitas keturunan Tionghoa hanya merupakan 4 % dari penduduk Indonesia, namun mereka mampu  mengendalikan 70 % perekonomian di Indonesia.


                       Kontribusi etnis Tionghoa pada seni pertunjukan wayang sangat besar
                                            (Foto: Koleksi Pribadi)

Meskipun noda-noda konflik pernah menumbuhkan stereotip etnik yang negatif, perjumpaan etnis Tionghoa dengan etnis Jawa dan etnis-etnis lainnya di Indonesia mempunyai historis keharmonisan tersendiri.  Kemajuan teknologi  perkapalan pada masa kebesaran kerajaan Majapahit konon dirintis oleh orang-orang Han dari Mongol yang mendarat di Tuban pada abad ke-12. Orang-orang Mongol itu  juga memilih untuk mendukung Majapahit  daripada pulang ke kampung halamannya. Peristiwa tersebut pernah disinggung  panjang lebar oleh Denys Lombard dalam buku adikaryanya   Nusa Jawa : Silang Budaya, Jaringan Asia (2000). Ternyata kontribusi  warga Tionghoa dalam berbaga aspek kehidupan, termasuk tradisi pemanfaatan waktu senggang dan seni pertunjukan sangatlah besar.

Inkulturasi
Memang dalam  dirinya sendiri, Kong Hu Cu dalam agama atau kepercayaan komunitas Tionghoa memiliki aspek –aspek ritual yang  akrab dengan berbagai bentuk perayaan dan pertunjukan. Tetapi yang menarik, berbagai perayaan dan  pertunjukan itu  itu hadir  dengan persentuhan yang intensif dan menyatu dengan tradisi setempat yang sering dikenal dengan terminologi inkulturasi. Wayang Potehi misalnya yang sering dipentaskan dengan  pengantar bahasa Melayu rendah  dan juga dalam perkembangannya sering menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah, beberapa kalangan menyebutnya sebagai  “ikon peranakan”  setara dengan  berbagai cerita silat yang ditulis  dan diterjemahkan oleh warga Tionghoa.
Dalam perkembangan selanjutnya, walaupun wayang potehi ini berasal dari  kaum migran Tionghoa, namun mereka justru bisa memadukan potehi dengan citra rasa lokal. Misalnya lakon potehi sendiri banyak dipinjam  dalam lakon kethoprak Jawa, seperti  tokoh Lie Sie Bien menjadi  Prabu Lisan Puro, Sie Jin Kwie menjadi Joko Sudiro, Kerajaan Thai  Toy  Tong menjadi Kerajaan Tanjunganom, dan lainnya.
            Keterpadauan dengan budaya lokal  ini, semakin merperat kebersamaan di antara warga Tionghoa dan Jawa yang kini dikenal dengan pembauran. Bahkan pemain potehi yang ada di Semarang dan Surabaya tidak terbatas dari warga keturunan Tinghoa, orang Jawa pun banyak yang berprofesi sebagai dalang potehi. Sebut saja, Bambang Sutrisno, Sukar Murjiono, Edy Mulyanto. Sedang para dalang dari etnis Tionghoa yang terkenal di antaranya Thio Tian Gie, Sing Tjon, Eng Tin, dan sebagainya (Majalah Gong, No. 67 Thn. 2005).
Selain itu,  komunitas Tionghoa sendiri  tak segan-segan  mengolah  bentuk seni setempat dalam bentuknya yang inovatif. Salah satu contoh adalah  wayang  thithi. Kata thithi  berasal dari suara alat musik   terbuat dari  kayu berlubang  yang jika dipukul akan mengeluarkan suara  thek...thek...thek. Di telinga orang Jawa, suara gemerincing  kepyak (salah satu instrumen musik gamelan terbuat  dari empat sampai lima lempengan logam yang dipukul dengan kaki dalam pertunjukan wayang kulit Jawa) terdengar seperti suara thi...thi...thi.
Wayang ini muncul pertama kali di Yogyakarta tahun 1920-an dan diciptakan oleh Gan Thwan Sing. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan musik pengiringnya pun adalah karawitan Jawa. Gan menulis sendiri  lakon ceritanya daalm bahasa dan aksara Jawa, yang berisi mitos dan legenda negeri Tiongkok. Nama-nama tokoh dalam cerita tersebut, berikut negara, kerajaaan, kadipaten, kahyangan ditulis dalam bahasa Hokkian, tetapi istilah kepangkatan, gelar, dan lainnya dominasinya menggunakan istilah Jawa.
Kontribusi besar lain komunitas Tionghoa nampak  pada  pengembangan seni pertunjukan populer. Hal ini terlihat  misalanya dalam apa yang disebut wayang orang. Minatnya terhadap seni budaya Jawa, terutama wayang orang, tampak ketika Gam Kam, seorang pengusaha Cina yang kaya melihat adanya  peluang untuk mendirikan  rombongan wayang orang di luar tembok istana. Berdasarkan tulisan James R. Brandon dalam Theatre in Southeast Asia (1967) menegaskan bahwa rombongan wayang orang milik Gam Kam  yang dirintis sekitar tahun 1895 di Surakarta merupakan  grup seni  pertunjukan tradisional  komersial pertama yang dipentaskan  di panggung prosenium dengan model  panggung seperti di  Eropa.
Fenomena ketertarikan komunitas Tionghoa pada wayang orang karena diyakini,  wayang  di dalamnya mengandung nilai  tontonan dan tuntunan yang juga kaya dengan ajaran-ajaran  moral atau etika Jawa. Di samping itu besarnya minat publik wayang orang, merupakan salah satu  faktor lahirnya grup-grup wayang orang panggung komersial di kota-kota besar di Jawa. Maka tak mengherankan selain Gam Kam, terdapat banyak juragan-juragan  dari kalangan etnis  Tionghoa yang turut  menyemarakkan bisnis wayang orang, seperti Lie Wah Gien, Babah Lie Wat Djien, Babah Lie Yam Ping, Babah Lie  Sien Kuan, Yap Kam Lok, dan beberapa nama-nama etnis Tionghoa  lainnya.
Sikap adaptif dan integratif para juragan wayang orang  dari etnis Tionghoa itu dalam merealisasikan tujuan bisnisnya biasanya menjalin relasi dengan  penguasa lokal agar memperoleh perlindungan. Seperti, Lie Wat Djien, seorang pengusaha batik, bersama-sama Sri Mangkunegara VII mendirikan Wayang Orang Sono Harsono di Surakarta. Atau rombongan wayang orang milik  Lie Sien Kuan pernah direkrut oleh  Sri Susuhunan Paku Buwana X untuk mengisi pentas di Taman Sriwedari. Taman yang merupakan milik istana Kasunanan Surakarta ini memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan seni budaya istana yang didesain selaras dengan konsep paru-paru kota.
Dari pemikiran cerdas komunitas Tionghoa ini beberapa seni pertunjukan mengalami pergeseran fungsi yang semula  berfungsi ritual menjadi seni pertunjukan komersial yang banyak dikonsumsi publik. Seperti wayang orang yang semula merupakan seni istana dapat keluar tembok istana. Tentunya  sebagai seni komersial perlu didesain agar seni pertunjukan tersebut layak jual. Seperti tata panggung, lighting, dan  properti pertunjukan  yang dikemas semenarik mungkin.
Kontribusi komunitas Tionghoa pada seni pertunjukan  lokal ini tidak hanya sekadar menjual tetapi juga membentuk dan memainkan. Seperti di Surakarta sampai saat ini  masih dikenal PMS (Paguyuban Masyarakat Surakarta) yang merupakan perkumpulan  masyarakat Tionghoa dengan potensi yang dimiliki yaitu kesenian Tionghoa dan wayang orang.
Interaksi harmonis antara  komunitas Tionghoa dengan komunitas lokal tersebut, tidak sekadar  menunjukkan adanya keinginan  komunitas Tionghoa untuk menjadi Jawa agar dapat diterima oleh  masyarakat Jawa, melainkan mereka  sebenarnya adalah orang orang Jawa itu sendiri, terlepas dari ada atau tidaknya  warisan biologis Jawa  pada diri mereka  sebagai individu. Pada merekalah kebudayaan lokal terutama ranah seni pertunjukan  menemukan atmosfer dan daya hidup yang tak lekang oleh waktu.


Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Pendamping Seni Budaya
SMK Wiyasa Magelang





Pewarisan Seni Tradisi

Pewarisan Seni Tradisi

Oleh Ch. Dwi Anugrah

Wisnu, bocah usia 7 tahun itu duduk menyelinap  terhimpit di sela rancakan gamelan. Hari tengah malam, saat ia dibangunkan oleh emaknya. Sejak siang ia memang sudah  wanti-wanti agar dibangunkan untuk nonton wayang yang ditanggap seorang warga kampung di tetangga desanya.
Berjalan sekitar 1 kilometer menyusuri pematang kecil ke tempat pergelaran tak membuatnya kelelahan. Tak sampai 15 menit, anak dan emak itu langsung tenggelam di tengah penonton yang berjejal. Wisnu kecil melepasa pegangan tangan emaknya, menyelusup di antara tubuh-tubuh dewasa, dan segeralah  ia bersimpuh di sela gamelan tadi. Malam itu, saat adegan goro-goro tiba. Satu adegan yang ditunggu-tunggu banyak penonton lantaran didalamnya tersebar pernik-pernik falsafah kehidupan dari sang dalang. Juga saat gending-gending popular dikumandangkan.
“Aku pengin seperti dia,” ujar Wisnu lirih, Pandangan matanya terfokus pada si dalang yang rupanya telah memesona dirinya. Ia pun meminta emaknya untuk selalu mengajaknya datang setiap ada pergelaran wayang kulit. Di rumah ia meniru sabetan sang dalang, dengan wayang kardus yang dibelikan emaknya. Sembari memainkan wayang, mulutnya menirukan  gending-gending pakeliran. Sesekali mencoba antawacana sebagaimana dilakukan oleh dalang.




                                Dalang cilik mewarisi keahlian generasi pendahulu 
                                                 (Foto: Koleksi Pribadi)

Memori masa kecil itu begitu lengket dalam ingatan Wisnu yang kini menjadi seniman, dalang tepatnya. Meski belum sekondang dalang yang diidolakan, namun pengalaman masa kecil itulah yang kelak membawanya mengarungi jagad kesenian. Sebuah pengalaman yang mengajarkan dirinya untuk lebih menekuni  seni secara serius.
Wisnu memang bukan keturunan seniman. Ia hanya tahu dari cerita orang, bapaknya yang hanya menemaninya selama 2 tahun  sejak ia dilahirkan adalah pemain kethoprak, yang kesohor di desa-desa lereng gunung Merbabu. Yang pasti, kini Wisnu lebih menekuni profesinya sebagai dalang ketimbang kethoprak. Ia pun memompa hasrat kesenimannya, dari yang semula secara otodidak, kemudian masuk perguruan tinggi seni. Ia kini telah menentukan jalan hidupnya sebagai seniman.
Bakat Tumurun
Ilustrasi di atas menandaskan bahwa dunia seni, sebagaimana sering disebut secara common sense, adalah bakat yang diturunkan  atau yang diwariskan. Dalam ilmu reproduksi pun telah mengiyakan pandangan  itu. Banyak  figur yang bisa dijadikan contoh. Sebutlah contoh keluarga Yasa Sudarma dari Padepokan Cipta Budaya Tutub Ngisor, Kecamatan Dukun Kab. Magelang yang telah melahirkan seniman-seniman tari, dalang, dan karawitan dalam suatu komunitas yang solid.
Tapi ternyata tak semua seniman lahir dari darah  seorang seniman. Dalam konstuksi pemikiran modern, kemampuan seni itu bisa digali, ditemukan, dan dibangun bentuknya. Implikasinya, seorang seniman tak semata “lahir”, tapi juga “dilahirkan” atau “diciptakan”. Ini alasan kehadiran sekolah-sekolah konservatori atau sekolah menengah kesenian mempunyai arti penting dan strategis. Bukan sekadar menampung  bakat, tetapi cakap membentuk  dan menjadikan siswa sebagai seniman. Lebih dari itu, merekalah penjaga gawang pewarisan seni  tradisional. Di tengah krisis pewarisan seni di lingkup keluarga seniman, lembaga inilah  yang pantas mengambil alih peran tersebut.


                     Orang tua mendampingi anaknya ikut kegiatan seni pertunjukan
                                              (Foto: Koleksi Pribadi)

Konsep  pewarisan (inheritance)    mengadopsi dunia riil  yakni suatu entitas/obyek dapat mempunyai entitas/obyek turunan. Di Indonesia, sebelum pendidikan seni dikenalkan di sekolah ada cara mengalihkan keterampilan secara ketukangan (crafmanship) seorang seniman/kriyawan dalam hal ini orang tua kepada anak dengan cara pewarisan.  Cara pewarisan ini bagi orang tua merupakan kebanggaan. Cara ini bagi lingkungan masyarakat didukung dan dilakukan untuk  menurunkan seni  kepada anak-anaknya. Walaupun tidak semua anak mewarisi bakat orang tuanya, namun baknyak realita yang tersibak, bahwa faktor internal  yang kuat ditambah faktor gen sangat mempengaruhi minat anak untuk mendapatkan pewarisan seni dari orang tuanya. Sebut saja anak-anak wayang Ngesti Pandawa Semarang, Wayang Orang Bharata Jakarta, Kethoprak Siswo Budaya Tulungagung, dan sebagainya darah seni orang tua menjadi pemicu anak-anaknya untuk terus melanjutkan dalam berkesenian (Endang Caturwati, 2013).
Dalam dunia pendidikan, konsep pewarisan di atas dapat diidentikkan dengan konsep pembelajaran, transmisi atau transformasi pengetahuan (transfer of knowlwdge) karena pada prinsipnya mencakup proses pengalihan kompetensi dari generasi ke generasi, dalam hal ini dari guru kepada murid. Pengalihan itu dapat berupa karakteristik, pengetahuan, keterampilan, dan atau kompetensi lainnya. Oleh karena itu konsep pewarisan  lebih dimaknai sebagai proses pembelajaran, yaitu proses interaksi antara siswa dengan  guru  dan sumber belajar pada suatu kondisi yang sengaja diciptakan agar terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dimaksud menyangkut perubahan yang terjadi secara sadar, kontinyu dan fungsional, bersifat positif dan aktif serta tidak bersifat sementara, memiliki tujuan atau terarah, dan perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. 
Pewarisan Kultural
Sejak awalnya seni tradisi memang selalu bersifat lokal, terbatas pada wilayah geografis komunitas pemilik kesenian tersebut. Memang ada nilai ekonomi di dalamnya, tetapi sifatnya bukanlah suatu yang industrial. Oleh faktor difusi, ada yang bentuk  maupun ekspresinya  serupa dan mirip di kawasan lain, tetapi selalu di setiap tempat memiliki kekhasannya sendiri, baik dalam penamaan, cara memainkan, dan juga konteks  sosial ketika  suatu  seni itu dimainkan.
Dari kekhasannya tersebut, sampai saat ini seni tradisi, dengan segala bentuk  dan berbagai kawasan, mampu bertahan sebagai suatu pengetahuan  maupun  keterampilan karena di antaranya adanya sistem pewarisan yang bersifat kultural.  Seni tradisi  pada umumnya bersandar pada  pewarisan yang berbasis pada keluarga. Seorang seniman secara kultural akan menjadikan anak atau cucunya sebagai seniman. Atau anak dan cucu  secara kultural  mengikuti jejak ayah atau kakeknya menjadi seniman, meneruskan keahlian berkesenian keluarga.
Mungkin karena sifatnya yang kultural itu, maka ada banyak pola pewarisan seni yang berbasis keluarga ini. Atau bisa dikatakan pewarisan ini tidak  memiliki pola yang tetap dan tunggal. Ini tidak  saja dalam proses  mempelajari tetapi juga dalam hal kelak jika si seniman mewariskan potensi yang dimiliki. Salah satu kisah yang menarik bisa dipetik dari  keluarga Bagong Kussudiardja (alm.), koreografer dan pelukis, yang masih termasuk cucu dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Sebagai kerabat kraton, keseharian Bagong akrab dengan seni tradisi  Jawa seperti menari, menembang, dan bermain gamelan.
Bagong tidak hanya mempelajari tari klasik Jawa. Ia juga belajar tari Bali dan Sunda, yang unsur-unsurnya kemudian banyak ia masukkan dalam garapan tari kontemporernya. Koreografi yang digarap banyak menarik peminat seni tari, hingga membawa Bagong menjadi sang guru bagi penari-penari muda. Tidak sedikit  penari profesional yang lahir dari  rahim padepokan tari Bagong. Cara Bagong mengajarkan tari dikembangkan oleh penerusnya, yang tidak lain adalah anak-anaknya sendiri seperti Djaduk Feriyanto dan Butet Kertarajasa.
Mereka berdua berusaha mengembangkan pola pembelajaran tari ala Bagong. Djaduk dan Butet bukanlan penari  seperti bapaknya. Tapi mereka berupaya  untuk membuat dunia tari menjadi lebih berkembang  dengan adanya sharing dan diskusi setelah pementasan di padepokan. Dengan sharing semua bisa refleksi bersama termasuk kelebihan maupun kekurangannya agar pementasan ke depannya bisa lebih baik.
Keterlibatan Pemerintah
Mengharapkan pewarisan seni tradisi, semata pada keluarga  yang secara historis telah menjalani profesi sebagai seniman itu, mungkin perlu diantisipasi lebih jauh. Bagaimana kalau anak cucu dari seniman itu, tidak bersedia menjadi seniman untuk meneruskan profesi orang tua atau para pendahulunya?
Pertanyaan itu makin relevan, karena belakangan ini makin terasa  gejala di mana minat untuk menjadi seorang  seniman dari keluarga seniman itu semakin tipis. Sudah sering kita dengar, banyak para seniman sepuh mengalami kegelisahan yang luar biasa, karena tak ada satu pun dari anak cucunya, atau orang di sekitarnya, yang mau meneruskan keahliannya. Menurut Rahayu Supanggah, guru besar ISI Surakarta, hampir semua keluarga seniman segenerasinya Martopangrawit dan Mloyo Widodo itu, anak cucunya sudah tidak ada yang menjadi pengrawit (Majalah Gong No. 91/VIII/2007).
Untuk menyiasati kekhawatiran akan hilangnya pengetahuan dan keterampilan itu, terlebih  jika dianggap pengetahuan dan keterampilan sebagai suatu yang unik  dan langka, maka pemerintah mendirikan beberapa  sekolah seni mulai dari tingkat menengah sampai pendidikan tinggi dengan tujuan pemeliharaan (konservatorium). Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Yogya, Solo, Denpasar, Bandung, Surabaya, Padangpanjang, dan beberapa kota lain di seluruh Nusantara. Dari segi namanya, “konservatorium”, jelas peran lembaga pendidikan seni ini sebagai  pelestari seni tradisi. Di lembaga ini para guru bukan  hanya mengajarkan  ilmu dan keahlian seni, tetapi juga mengkaji dan menciptakan metode pembelajaran yang paling efektif di samping mengkaji dan menciptakan berbagai teori kesenian.
Tanpa bermaksud mengabaikan peran sekolah-sekolah ini, bagaimanapun lembaga pendidikan formal tersebut memiliki multiragam keterbatasan. Pertama, sekolah-sekolah ini hanya ada di kota-kota tertentu saja. Kedua, seni yang dikonservatori itu terbatas seni-seni istana atau seni yang dianggap adiluhung saja. Adapun seni yang dianggap pinggiran dan lebih-lebih memiliki  unsur-unsur mistik, katakan misalnya berbagai seni yang menyertakan  unsur supranatural belum mendapatkan tempat yang semestinya di sekolah-sekolah ini. Ketiga, belakangan bobot dan orientasi pelajaran di dalam sekolah-sekolah seni  ini bahkan  lebih banyak mengarah  pada seni dalam pengertian barat. Baik secara geografis  maupun konsennya, jelas sekolah-sekolah ini tidak akan menyentuh keseluruhan dari wilayah seni tradisi di Nusantara yang sangat luas dan beragam ini.
Bagaimanapun, sampai sekarang peran pemeliharaan ini tetap dijalankan oleh sekolah-sekolah ini baik mulai jenjang Sekolah Menengah Kejuruan Seni sampai Pendidikan Tinggi seni. Walaupun hasilnya belum optimal, tapi niat pemerintah konsisten dalam pemeliharaan seni tradisi. Terbukti niat pemerintah tidak terbatas pada pemeliharaan saja, namun dalam banyak hal, telah memberi kontribusi dengan berbagai event pementasan, misalnya melalui penyelenggaraan festival-festival atau dukungan untuk kegiatan-kegiatan pertukaran budaya.
Dengan demikian pewarisan seni tradisi hendaknya keluarga juga punya peran untuk meneruskan pada generasi berikutnya secara alami dan kultural. Sedangkan kalau generasi berikutnya ingin lebih mengembangkan lebih jauh dapat meneruskan ke lembaga-lembaga pendidikan formal guna mematangkan warisan seni tradisi yang sudah diterima.

Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Pendamping Seni Budaya 
SMK Wiyasa Magelang




Rabu, 06 Juli 2016

Biodata Dwi



 BIODATA  GURU

* Nama                                 :  Drs. Ch.  Dwi Anugrah M., M.Pd.
* Tempat dan tgl. Lahir          :  Magelang, 4 Desember 1965  
* Alamat                                :  Sanggar Seni “Ganggadata”
                                                   Dusun Punduhan RT 02, RW 01, Desa Jogonegoro, 
                                                   Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang  56172
* Alamat Pekerjaan                 :  SMK Wiyasa
   Jl. Tidar No. 36 Magelang 56122
   Telp (0293) 364277  
* No. Ponsel/e-mail                 :  0856 28 88472 / anugrah_klg@yahoo.com
* Pendidikan                           :  - Sarjana Seni Tari  ISI Yogyakarta  thn. 1990
   - Akta IV FKIP Universitas Tidar Magelang thn. 2007
   - S2 Manajemen Pendidikan Universitas
      Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)  Yogyakarta
                                                      Angkatan  thn. 2012. Lulus tgl. 10 Mei 2014
                                                      Judul Tesis ”Penanaman Nilai Karakter Melalui
                                                      Manajemen Pembelajaran Seni Tari Di SMA Negeri
                                                      1 Kota Magelang”.
                                                      Predikat Kelulusan cum laude (IP 3,87).

II. Pengalaman Karya Seni , Worskhop, Seminar  
- Thn. 1987 : Koreografer Dramatari “Pitaloka” dalam Festival Dramatari se-Jawa    Tengah
- Thn. 1988 : Sutradara Wayang Orang “Sugriwo – Subali” dalam Festival Wayang     Orang  se-Jawa Tengah
-  Thn. 1988 : Deputasi Penari  ISI Yogyakarta dalam Dramatari “Ken Arok” untuk event Pekan Seni  Festival  Mahasiswa   Tingkat Nasional di STSI Surakarta
-     Thn. 1989 : Koreografer Dramatari “Mantyasih” dalam rangka Hari Jadi Kota        Magelang
-     Thn. 1989 : Koreografer Dramatari “Putri Kencana” dalam rangka lepas sambut    Walikota Magelang
-   Thn. 1992 : Koreografer Dramatari “Panji Semirang” dalam rangka lomba lukis se-   Jawa Tengah dan DIY di Taman Wisata Candi Borobudur
-  Thn. 1993 : Koreografer Dramatari “Prahara Indrabawana” dalam rangka  Lustrum   SMKK Pius Magelang 
-      Thn. 1994 : Koreografer Dramatari “Kunjarakarna” dalam Festival Borobudur
-   Thn. 1994 : Koreografer Tari Kontemporer “Suksesi” dalam Pesta Seni Nor Gora Rupa di Taman Budaya Surakarta 
-        Thn. 1995 : Koreografer Tari Kontemporer “Perfeksi” dalam rangka Pidato       Kebudayaan di Studio Mendut Magelang 
-     Thn. 1999 : Koreografer Dramatari “Kusumayuda” dalam Pesta Petrus Kanisius di     Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-     Thn. 2002 : Koreografer Dramatari “Bhisma Mahawira” dalam Peringatan 90 tahun    Seminari Menengah Mertoyudan Magelang 
-     Thn. 2002 : Skenario Dramatari Langendriyan “Bhisma Mahawira” dalam rangka    Festival Langendriyan Tingkat Provinsi Jawa Tengah
-          Thn. 2002 : Koreografer Tari “Inkulturasi” dalam rangka Hari Raya Kristus Raja di    Gereja Santo Antonius & SMA PL Van Lith Muntilan
-          Thn. 2003 : Koreografer Tari “Kusuma Jurit” dalam rangka apresiasi seni di SMA PL Van Lith Muntilan
-          Thn. 2003 : Koreografer Dramatari “Prasapa Ramaparasu” dalam rangka Perayaan Petrus Kanisius di SMA Seminari Mertoyudan Magelang.
-          Thn. 2003 : Tim Mediasi Panitia Borobudur International Festival 2003
-          Thn. 2003 : Koreografer karya tari “Kesetiaan” dalam rangka apresiasi seni di SMA Seminari Mertoyudan
-          Thn. 2003 : Peserta ekspedisi budaya Kabupaten Magelang ke Nusa Dua Bali
-          Thn 2004 : Koreografer Karya Tari “Kusuma Yuda” di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-          Thn. 2005 : Koreografer Karya Tari “Kridha Warastra” di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-          Thn. 2005 : Penghargaan Bintang Budaya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang dalam bidang Jurnalistik Kebudayaan
-          Thn. 2006 : Diklat Perpustakaan di Perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana
                   Salatiga
-   Thn. 2006 :  Workshop Museum di Hotel Trio Magelang yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
-        Thn. 2006 : Koreografer Sendratari “Kridhaning Senapati” dalam rangka Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang.
-        Thn. 2006 : Koreografer Sendratari “Kasetyaning Pembayun” dalam rangka Lustrum Ketiga di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang.
-        Thn. 2007 : Koreografer Sendratari “Sri Huning Mustika Tuban” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang
-          Thn. 2007 : Instruktur ekspedisi budaya Kabupaten Magelang ke Jembrana Bali
-    Thn. 2008 : Koreografer Tari Ritual  Inkulturasi “Pencarian Diri” dalam rangka Hari Orang Tua di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-    Thn. 2008 : Koreografer Sendratari “Risang Basukarna” dalam rangka Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-       Thn. 2008 : Koregrafer Sendratari “Dyah Pitaloka” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni Di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang
-          Thn. 2008 : Penulis Buku Seni Budaya “MENGAPRESIASI KARYA SENI SMK” oleh penerbit PT SMK Klaten.
-     Thn. 2009 : Koreografer Sendratari “Prasapa Dewabrata”  dalam rangka Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-    Thn. 2009 : Koreografer Sendratari “Tumuruning Kamulyan” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni di SMA PL Van Lith Muntilan.
-        Thn. 2009 : Instruktur Misi Kesenian SMK Wiyasa Magelang di Hotel Borobudur Jakarta dalam rangka HUT Pendiri SMK Wiyasa Ibu Budiarti Silalahi, M.Sc.
-   Thn. 2010 : Koreografer Sendratari “Kesetiaan Sinta”  dalam rangka Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-       Thn. 2010 : Koreografer Sendratari “Sirnaning Dur Angkara” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni di SMA PL Van Lith Muntilan.
-    Thn. 2010 : Juara pertama Guru Berprestasi jenjang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) se-Kota Magelang.
-   Thn. 2011 : Koreografer Sendratari “Petrus Kanisius” dalam rangka Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang dan Temu Seminari Region Jawa & Bali
-          Thn. 2011 : Koreografer Sendratari “Arjuna Wiwaha” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni Hari Van Lith  di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang
-          Thn. 2011 : Lulus Sertifikasi Pendidik Guru Profesional Mata Pelajaran Seni Budaya
-         Thn. 2012 : Koreografer Sendratari “Prahara Mahespati” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni Hari Van Lith  di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang
-   Thn. 2012 : Peserta Seminar Nasional “Peningkatan Komitmen Guru Profesional Dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Prima Pendidikan Guna Ikut Serta Menyambut Lahirnya Generasi Emas Indonesia”
-          Thn. 2012 : Peserta  Workshop Pengembangan Silabus dan RPP Mapel Berbasis Budaya dan Karakter Bangsa Tingkat Provinsi Jawa Tengah
-        Thn. 2013 : Peserta Seminar Nasional “Perubahan Desain Kurikulum Sekolah/Madrasah Tahun 2013”.
-   Thn. 2013 : Koreografer Sendratari “Satriya Pinilih” dalam rangka hari Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-       Thn. 2013 : Koreografer Sendratari “Kisah Seribu Candi” dalam rangka Puncak Apresiasi Seni Hari Van Lith  di SMA PL Van Lith Muntilan Magelang
-     Thn. 2013: Peserta Seminar Nasional “Menguatkan Profesionalisme Guru Melalui Peningkatan Kompetensi  dan Pelaksanaan Kode Etik Guru Indonesia” dalam rangka  Peringatan  Hari Pendidikan Nasional 2013
-      Thn. 2013: Peserta Seminar Pendidikan dengan tema “Dinamika Pendidikan Nasional dan Masa Depan Lulusan Pascasarjana Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Direktorat Program Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta
-  Thn. 2013: Peserta Seminar Pendidikan dengan tema “Peningkatan Kompetensi Pedagogik dan Profesional untuk PKG dan PKB”  yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Daerah Istimewa Yogyakarta
-    Thn. 2013: Peserta Seminar Nasional Pendidikan dengan tema “Keselarasan Kurikulum 2013 Pada Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Kebutuhan Dunia Kerja”  yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
-     Thn. 2013: Penulis Buku “Mengapresiasi Karya Seni” oleh penerbit PT SMK Klaten.
-     Thn. 2014 : Koreografer Sendratari “Narasoma Wiratama” dalam rangka hari Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-    Thn. 2014: Peserta pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru SMK Mata Pelajaran Seni Budaya yang diselenggarakan oleh P4TK Matematika Yogyakarta
-   Thn. 2014: Peserta Workshop  Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 SMK Kejuruan di SMK Negeri 1 Purworejo
-    Thn. 2014: Peserta Kursus Pembina Pramuka  Mahir Tingkat Dasar Bagi Calon Pembina Pramuka yang diselenggarakan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Magelang
-  Thn. 2015: Koreografer Sendratari “Senapati Pinunjul” dalam rangka hari Petrus Kanisius di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
-   Thn. 2015: Workshop Penulisan Karya Ilmiah dengan panitia penyelenggara PGRI Kota Magelang
- Thn. 2015: Seminar Nasional Pendidikan “Membangun Lingkungan  Yang Berbudaya Guna Mencegah Kekerasan Pada Perempuan dan Anak”
- Thn. 2016: Koreografer Sendratari “Aswatama Nglandhak” dalam rangka hari Petrus Kanisius  104 di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang
- Thn. 2016: Juara kedua PTK Berprestasi jenjang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) se-Kota Magelang.
-    Thn. 2016: Seminar Pendidikan “Grand Event” UPTD Desa Buku Dinas Pendidikan Kota Magelang

III. Pengalaman Organisasi :
* Thn. 1990 – 2001 : Guru  SMA Seminari Mertoyudan Magelang
* Thn. 1993 – 1994 : Guru  Yayasan Tarakanita Magelang  
* Thn. 1995 – 1999 : Sekretaris Forum LSM Social Forestry se-Jateng & DIY 
* Thn. 1995 – 1999 : Sekretaris PPM se-Kabupaten dan Kota Magelang  
* Thn. 1995 – 1999 : Aktivis LSM Yayasan ABDI Magelang 
* Thn. 1999 – 2000 : Kepala Divisi Kesenian Pasar Seni dan Kriya Borobudur 
* Thn. 2001 – Sekarang : Pendamping Seni  Budaya SMK Wiyasa Magelang 
* Thn. 2001 – 2013 : Pendamping Humaniora Seni Tari SMA PL Vanlith Muntilan
* Thn. 1997 – Sekarang : Pendamping Humaniora Seni Tari SMA Seminari Mertoyudan 
* Thn. 2004 – Sekarang : Kepala Bidang Litbang Dewan Kesenian Kab. Magelang
* Thn. 2000 – Sekarang : Penulis Kolom Budaya dan Pendidikan Majalah Suara  
                                         Gemilang  Infokom   Kab.    Magelang
* Thn. 2000 – 2011 : Penulis Majalah Gong Yogyakarta Pimpinan Endo    
                                   Suanda
* Thn. 2001 - Sekarang  : Penulis Kolom Budaya dan Pariwisata Majalah Info 
                                            Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah
* Thn. 2000- Sekarang   : Ketua Sanggar Seni “Ganggadata” Jogonegoro Magelang
* Thn. 2003-2012            : Wartawan  Majalah Praba Yogyakarta
* Thn. 2004- Sekarang   : Penulis Kolom Budaya Majalah Dinamika  Infokom Kota 
                                          Magelang
* Thn. 2012- Sekarang   : Pengurus Forum Komunikasi Media Tradisional Kabupaten
                                          Magelang

IV. Referensi :
* Dra. Endang Sadbudhy Rahayu, M.B.A.
   Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud
* Daryono, S.Kar., M.Hum. 
   Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta
* Dr. Sumaryono, M.A.
   Dosen Seni Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta
* Ariswara Sutomo
   Budayawan dan Penulis Buku Borobudur
* FX Widaryanto, S.S.T., M.A.
   Dosen Seni Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung
* Sutanto 
   Budayawan dan Apresiator Studio Mendut

V. Lain-Lain : 
* Penulis Feature Pendidikan dan Seni di beberapa  media massa daerah 
* Pendamping kegiatan kesenian komunitas pedesaan di lingkungan Magelang 
* Penari Sendratari Mahakarya Borobudur 
* Penari Hotel Manohara Borobudur   


                     Magelang,  28   Juni  2016

                                                                                               Guru Seni Budaya


                                                                           

                                                                                                     Drs.  Ch. Dwi Anugrah M., M.Pd.






Hastabrata

Kepemimpinan Hasta Brata



Oleh Ch. Dwi Anugrah

            Kekuasaan  sepertinya merupakan sesuatu yang didambakan. Semua orang tanpa kecuali sekarang ini pada berlomba  untuk mendapatkan kekuasaan. Memang, kekuasaan memberikan kehormatan atau prestise Namun, sebenarnya kita lupa bahwa itu hanyalah satu sisi saja. Di sisi lain, kekuasaan itu menuntut tanggung jawab.  Di sinilah kekuasaan itu menjadi tidak mudah. Sebab, kekuasaan tidak bisa dilihat hanya sekadar panggung  tempat pemegang  kekuasaan untuk tampil mempertontonkan kehebatannya.
           Pada dasarnya kekuasaan perlu memberikan manfaat kepada masyarakat yang dipimpinnya. Kekuasan oleh para pemimpim harus dipakai untuk memberikan kesejahteraan umum (bonum publicum). Untuk itulah tidak semua orang berhasil ketika diberi kekuasaan. Bahkan seringkali kekuasan itu hanya dinikmati  untuk kepentingannya sendiri. Dengan kekuasaan  itu banyak orang yang lupa diri dan merasa menjadi orang yang tak tertandingi

Hasta Brata
           Sebagai formula agar dapat menjadi pemimpin yang didambakan hendaknya para pengambil kebijakan perlu memegang sifat kepemimpinan yang dikenal dengan Hasta Brata. Hasta mengandung pengertian delapan. Brata artinya perilaku atau sifat. Sifat kepemimpinan ini dilakukan ketika Sri Rama mengangkat Wibisana menjadi raja di Alengka dalam epos Ramayana karya Valmiki. Kedelapan sifat kepemimpinan tersebut adalah :
Pertama, Sifat Matahari. Makna seorang pemimpin bersifat seperti matahari adalah agar setiap pemimpin  harus mampu memberi motivasi, spirit, daya hidup, dan memberi kekuatan kepada seluruh anak buah yang dipimpinnya.
Kedua, Sifat Bulan. Bila diamati bulan itu bentuknya bulat indah dan menarik hati siapa saja yang melihat. Seorang pemimpin harus memiliki sifat bulan maksudnya, agar setiap pemimpin  harus dapat menyenangkan, menarik hati dan memberi terang  dalam kegelapan kepada semua anak buah yang dipimpinnya.
Ketiga, Sifat Bintang. Bintang mempunyai bentuk yang sangat eksotis dan menjadi hiasan  langit di waktu malam serta  dapat menjadi petunjuk arah (kompas) bagi mereka yang kehilangan arah. Jadi seorang pemimpin harus dapat berfungsi seperti bintang, maksudnya bahwa seorang pemimpin  dapat memberi petunjuk, memberi arahan, dan bimbingan agar anak buahnya  mampu menyelesaikan  tugasnya dengan baik. Bintang sebagai lambang  bahwa semua orang harus senantiasa ingat pada Tuhan. Oleh karena itu seorang pemimpin harus  bertaqwa kepada Tuhan.
Keempat, Sifat Angin. Seperti diketahui angin mempunyai sifat dapat mengisi setiap ruangan yang kosong walaupun di ruangan yang kecil sekalipun. Seorang pemimpin harus dapat berfungsi seperti angin, maksudnya agar setiap pemimpin  dapat bertindak dengan cermat dan teliti serta tidak  segan-segan terjun langsung ke masyarakat  agar mengetahui kondisi yang sebenarnya. Apalagi angin segar, seorang pemimpin harus mampu membawa suasana yang menyenangkan..
Kelima, Sifat Api. Bila diamati api sifatnya dapat membakar apa saja yang bersentuhan dengannya dan tegas. Jadi seorang pemimpin  harus mampu bertindak seperti api artinya harus tegas dan adil tanpa pandang  bulu. Di samping tegas seorang pemimipin harus mempunyai prinsip  yang konsisten  serta dapat  menahan emosi  atau mengendalikan diri.
Keenam, Sifat Mendung. Mendung mempunyai sifat menakutkan (berwibawa) tetapi setelah berubah menjadi air  dalam hal ini hujan dapat menyegarkan semua makhlug hidup. Untuk itu pemimpin harus dapat bersifat seperti mendung yaitu harus  dapat menjaga kewibawaan dengan berbuat jujur, terbuka dan semua  yang menjadi programnya dapat bermanfaat  bagi anak buah dan sesama.
Ketujuh, Sifat Samudra. Bentangan samudra luas dapat menampung apa saja yang akan masuk ke dalamnya. Di samping itu sifatnya juga rata. Jadi seorang pemimpin  harus berfungsi seperti samudra yaitu mempunyai pandangan luas, merata, sanggup,  mampu menerima berbagai macam persoalan serta tidak boleh pilih kasih dan membenci  terhadap golongan apa pun. Di samping itu seorang pemimpin  harus berbesar jiwa yaitu mau memaafkan kesalahan orang lain.
Kedelapan, Sifat bumi. Bumi mempunyai sifat teguh  atau  sentosa dan apa yang ditanam di bumi akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat  untuk kehidupan. Kiranya seorang pemimpin harus dapat bersifat seperti bumi yaitu berteguh hati dan selalu mampu memberi anugrah  terhadap siapa saja yang berjasa terhadap nusa dan bangsa.

Media Kontrol
             Dengan memahami dan mengaplikasikan  ajaran Hasta Brata tersebut, paling tidak dapat sebagai media kontrol diri  para pemimpin dalam menjalankan kinerjanya. Rasanya juga masih relevan beberapa ungkapan Jawa seperti sabda pandhita ratu dan berbudi bawalaksana untuk menjadi pegangan  normatif bagi para pemimpin. Seperti yang ditulis Thomas Wiyasa Bratawijaya dalama bukunya “Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa” (1997) menjelaskan sabda pandhita ratu mengandung makna apa yang telah diajarkan oleh para pandhita dan diucapkan oleh raja tidak boleh diubah kembali. Makna semiotika  tersebut memberi ajaran bahwa pemimpin harus konsisten, yaitu harus ikut mengimplementasikan apa yang telah diucapkan. Kata-kata dan perbuatan harus selaras, tidak perlu ragu-ragu dan tidak terpengaruh oleh perasaan saja. Karena bila seorang pemimpin sudah terpengaruh  perasaan  maka mudah lupa apa saja  yang telah diucapkan
             Sedangkan berbudi bawa laksana mengandung implikasi seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dalam  tata nilai, moral, berbudi luhur, dan murah hati. Dalam tataran praksis sifat ini bisa diketahui pada pola tindak para pemimpin yang mempunyai empati atau kepedulian dan senang membei bantun pada anak buahnya yang mengalami kesulitan.
            Dengan prinsip ungkapan tersebut dalam menanggapi keadaan  yang serba tidak menentu seperti sekarang ini diperlukan prinsip yang konsisten dan tidak mudah terbawa arus. Mulainya jelas dari diri kita sendiri untuk menepiskan berbagai pengaruh yang dampaknya akan membawa resiko tinggi terutama terkait dengan degradasi moral.
            Akhirnya kita pun harus bisa mengatakan  ketika para pemimpin memegang jabatannya, harapannya agar mereka tidak bersikap mentang-mentang dengan aji mumpungnya berkuasa. Justru kekuasaan  harus membuat pemimpin yang diserahi tanggung jawab itu untuk rendah hati. Sebab jabatan itu tidak lebih hanya merupakan amanah.


Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Pendamping Seni Budaya
SMK Wiyasa Magelang





Dinamika Wayang Wong Gaya Yogyakarta

Dinamika Wayang Wong Gaya Yogyakarta

Dalam Historis Para Sultan

Oleh Ch. Dwi Anugrah


Kedudukan seni dramatari wayang orang atau dikenal dengan sebutan Wayang Wong dalam jagat kesenian Kraton Yogyakarta  tak dapat dipisahkan  dari kedudukan  Sultan Yogyakarta sebagai puncak  hierarki  status pemegang otoritas estetis. Oleh karena itu, Wayang wong identik dengan status Sultan yang ditempatkan sebagai raja penari.
Anggapan itu tidak berlebihan, jika kedudukan itu seperti  dalam periode  historis para raja yang mempunyai  kekuasaan monarki  absolut di belahan Eropa, terutama kerajaan Perancis di masa pemerintahan raja Louis XIV. Gambaran Louis  XIV sebagai raja penari  dikarenakan peran  favoritnya  sebagai dewa matahari  dalam seni pertunjukan balet.  Ini sebenarnya  juga sebuah identifikasi yang diasumsikan  para sejarawan tari  untuk melekatkan  status raja  dalam hierarki elite monarki di kerajaan Perancis.


                      Wayang Wong Gaya Yogyakarta, adegan Srikandi-Suradewati
                                                    (Foto: Koleksi Pribadi)

Sementara itu, gambaran Sultan Hamengku Buwana I sebagai  tokoh wayang Arjuna  dapat diidentifikasi  dari kekagumannya  terhadap tokoh ini dalam pertunjukan Wayang Wong. Salah satu ilustrasi menarik lainnya  ditunjukkan pada wujud penciptaan wayang kulit Arjuna yang diberi nama Kangjeng Kyai Jayaningrum. Wayang Arjuna Kangjeng Kyai Jayaningrum merupakan wayang kesayangan Sultan pertama Yogyakarta. Bentuk muka wayang ini berwarna hitam, dengan wanda kinanthi, yang merupakan  citra atau sifat-sifat berani tokoh wayang Arjuna dalam adegan  perang, terampil, cekatan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Asumsi ini  pun lebih didasarkan pada pola  identifikasi  yang menyerupai  sifat-sifat Sultan pertama, ketika masih berjuang mendapatkan rekognisi atau pengakuan dari Gubernur Jendral dan Kraton Surakarta. Kehadirannya  di dalam sastra lakon yang memilih Arjuna sebagai  peran utama, maka hal ini  dapat menjadi  sebuah  identifikasi dari suatu citra ideal seorang kreator seni.

Pengesahan Formal
Dalam sumber sejarah tradisional yang dikenal dengan babad telah membuktikan  sebuah pengesahan formal tentang pribadi Sultan sebagai pemilik karya seni ciptaannya. Atas dasar itu, dapat dikatakan bahwa  Sultan Yogyakarta adalah seorang penari handal. Hampir seluruh  karya seni tari  ciptaan  Sultan Hamengku Buwana I pernah ditarikan sendiri di masa-masa  awal pemerintahannya. Kangjeng Sultan  sering membawakan tokoh Arjuna dengan  ragam tari  halus (Pramutomo, R.M.,  2009).
Hal yang sama dilakukan juga oleh Sultan Hamengku Buwana II, ketika memilih  tokoh Wrekudara atau Bima sebagai tipe karakter  tari gagah pada tradisi Yogyakarta dalam cerita Jaya Pusaka. Cerita ini  merupakan kisah  carangan (rekaan) yang menggambarkan Wrekudara  atau Bima menjadi raja di Jodhipati, namun ditentang oleh sejumlah raja, termasuk Baladewa dan Korawa. Bahkan  Bathara Guru  yang merupakan  raja para dewa pun  turut menentangnya.
Obsesi kepada  tipe karakter  Wrekudara  ini sudah ada sejak  menjadi putra mahkota. Alasan-alasan ini  juga dapat  diimplementasikan  dari spesifikasi  sifat tokoh Wrekudara yang berpendirian kuat, berhati  teguh, cenderung agak kaku, dan mudah tersinggung. Mengacu  pada peristiwa  yang menyertai  masa-masa pemerintahan  Sultan Hamengku Buwana II, maka hal itu dapat diterima  sebagai bentuk  refleksi kepribadiannya  yang terkenal anti pemerintahan Eropa, non kooperatif, dan sangat kaku  dalam berdiplomasi. Beberapa intrik politik di dalam istana  dan perselisihannya  dengan kebijakan  para kerabat istana sangat mewarnai  jalannya pemerintahan saat itu. Tidak mengherankan jika ketika Inggris datang  mengusai Jawa, menimbulkan goncangan besar di Istana Yogyakarta. Peristiwa ini pada akhirnya  membawa Sultan  kedua pada akhir pemerintahannya  dengan cara diasingkan.
Periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwana III  merupakan periode terpendek  dalam sejarah Kraton Yogyakarta. Hal ini sama seperti masa  kekuasaan  Inggris di tanah Jawa dengan Thomas Stamford Raffles  menjadi  Letnan Gubernur Jendral Inggris   dari tahun 1811 hingga 1816.
Salah satu peristiwa  menonjol dari era pemerintahannya, yakni Sultan  ketiga berkehendak merancang  pertunjukan Wayang Wong  untuk suguhan tamu asing. Maka seni pertunjukan  lebih menekankan pada presentasi estetis dengan penonjolan pada nilai estetika, seperti kostum, make-up, tata panggung, dan sebagiainya. Ada impresif bahwa Wayang Wong  tidak lebih sekadar tontonan biasa dan cenderung agak santai, karena peristiwa  ini murni  ditujukan sebagai  suguhan tamu asing.
Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana keempat, berdasarkan Babad Ngayogyakarta, menegaskan bahwa raja ini  sangat membumikan jiwa kesenimannya yang memiliki berbagai macam kegemaran baik dalam berolah sastra, karawitan, tari, Wayang Wong, dan mengendarai kuda. Dengan demikian tingkat partisipasi dan kepedulian Sultan terhadap tumbuh kembangnya budaya Jawa sangat tinggi.

Penari Elite
            Beberapa sumber tradisional  menjelaskan bahwa  pada era Sultan Hamengku Buwana V hingga era  Sultan Hamengku Buwana VIII, para penari Wayang Wong  merupakan  sekelompok penari  yang memiliki  status elite dalam strata  sosial di istana. Kehendak Sultan membagi penari menjadi  tiga kelompok. Pertama, penari wayang gupermen merupakan kelas elite tinggi diperkenankan mengadakan pentas di Tratag Bangsal Kencana. Kedua, penari  wayang encik, golongan menengah jika mengadakan pentas diperbolehkan hanya di Bangsal Sri Panganti sebelah barat. Ketiga, penari wayang Thionghoa,  jika akan mengadakan pertunjukan  diadakan di Bangsal Kemagangan.
            Adanya klasifikasi penari tersebut mengindikasikan  suatu pola kelembagaan  yang diaplikasikan secara artistik. Termasuk kualitas teknik penari. Kiranya  hal itu menjadi  penting bagi  suatu pencermatan  yang mendasarkan  telaah perkembangan  pola sajian  dalam sebuah format artistik karena dipakai sebagai suguhan tamu. Maka tak mengherankan pada masa pemerintahan Sultan ketujuh muncul penari-penari dari keluarga istana. Seperti GPA Puger saudara Sultan VII sebagai Wrekudara. GPA Purubaya putra  Sultan VII sebagai Angkawijaya. BPA Suryadiningrat sebagai  putra Sultan  VII sebagai Irawan, dan sebagainya.
            Wayang Wong mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII. Sultan ini sering dijuluki  sebagai seorang maecenas atau pelindung besar seni pertunjukan istana. Di samping itu Sultan selalu  menyebut seni pertunjukan sebagai fokus utama dalam  memperbesar  kewibawaan Kraton  dan pemerintahannya melalui pergelaran Wayang Wong. Pada kenyataannya  menunjukkan, bahwa  status seni  pertunjukan di Kraton Yogyakarta pada era  ini mengalami puncak  perkembangan  dalam arti fisik maupun teknik.
Hal ini menjadi menarik, ketika gerakan nasionalisme di Yogyakarta juga mengalami perkembangan  bentuk organisasional.  Salah satu  periode  historis  penting  di zaman Hamengku Buwana VIII, yakni  didirikannya  sekolah tari pertama di luar tembok Kraton  yang bernama  Krida Beksa Wirama (KBW) pada tanggal  17 Agustus 1918 yang dipimpin oleh adik Sultan sendiri yang bernama BPH Suryadiningrat. Kiranya bentuk  perlindungan Sultan Hamengku Buwana VIII terhadap nilai seni budaya gaya Yogyakarta  telah diawali sejak masih bergelar Putra Mahkota, hingga saat menjadi Sultan di tahun 1921. Sampai dengan masa-masa awal pemerintahannya, bentuk dukungan itu menjadi semacam simbiosis mutualistik, dengan tersedianya sumber daya penari-penari KBW untuk ditampilkan  dalam pergelaran-pergelaran besar di dalam Kraton, selama kurun waktu  lebih dari dekade di awal  pemerintahan Sultan kedelapan.
Tentang perhatian Sultan yang begitu besar ini, kiranya tidak perlu diragukan, sebab sejak masih bernama  GPH Purubaya, beliau pernah  memerankan  tokoh Angkawijaya dalam suatu pertunjukan Wayang Wong di Kraton Yogyakarta  tahun 1899, bersama-sama dengan BPH Suryadiningrat  yang berperan sebagai Irawan, dan GPH Tejakusuma  berperan  sebagai Sumitra. Kesemuanya merupakan putra Arjuna. Kedekatan pribadi  di antara  ketiga  bangsawan ini merupakan refleksi pemikiran dari generasinya.
Hingga tiba masanya  GPH Purubaya  menjadi Putra Mahkota,  kedua adiknya itu segera menggandengnya sebagai upaya  permohonan restu  mendiang Hamengku Buwana  VII  untuk mendirikan KBW pada tahun 1918. Awal perkembangan KBW sangat bergantung pada relasi personal ketiga Pangeran di atas. Hal ini cukup menjamin  dihasilkannya  lulusan sekolah KBW yang mempunyai kemampuan teknik menari yang baik.
Pergelaran wayang orang di istana Yogyakarta pada umumnya selalu dimulai dari pukul 06.00 pagi dan berakhir pada sore hari menjelang matahari tenggelam. Pemilihan waktu pertunjukan ini hanya bisa dipahami melalui konsepsi kenegaraan Kasultanan Yogyakarta, bahwa dari nama kerajaan Ngayogjakarta dan gelar Hamengku Buwana, jelas mengindikasikan penguasaYogyakarta itu melegetemasikan dirinya seperti Dewa Wisnu. Gelar Hamengku Buwana yang berarti “pemelihara dunia” adalah gelar yang sama artinya dengan fungsi Dewa Wisnu sebagai pemelihara dunia. Sedangkan nama Ngayogjakarta mengacu kepada nama Ayodya, kerajaan Sri Rama. Dan Rama adalah inkarnasi Wisnu. Dalam pantheon dewa-dewa di Jawa, Wisnu juga dianggap sebagai dewa pencerahan dunia. Dari data-data tersebut bisa diprediksikan bahwa pertunjukan wayang orang yang dimulai dari pukul 06.00 pagi dan berakhir saat matahari tenggelam merupakan upacara penghormatan kepada Dewa Wisnu sebagai dewa pencerahan dunia (Soedarsono, 1985).
Sebagai seni pertunjukan istana tentunya terdapat tatanan normatif dengan  berpedoman pada tata cara dan etika istana yang di dalamnya juga terkandung nilai edukasi yang berlaku secara general untuk semua pendukung seni pertunjukan spektakuler tersebut.

Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Pendamping Seni Budaya
SMK Wiyasa Magelang
Alumni Jurusan Seni Tari ISI Yogyakarta
dan Magister Pendidikan UST Yogyakarta